Saya seorang pria yang TUHAN bawa untuk menekuni tarian, sebelum terjun di dunia tari, saya sempat melayani TUHAN sebagai guru sekolah minggu. Saya juga pernah mencoba berlatih alat musik diantarnya gitar dan keyboard, namun tidak ada yang bisa saya ikuti dengan baik, tetapi TUHAN membawa saya untuk menekuni tarian. Awalnya saya sempat protes kepada TUHAN. “Mengapa Engkau memberi saya talenta seperti ini. Saya ini seorang pria, kan jadi kelihatan gak "macho", malah mungkin jadi keliatan agak ‘feminim’” . Namun ternyata semakin saya mendalami tarian, perlahan saya semakin mengerti maksud TUHAN. Saya dibawa untuk membawa visi perubahan, untuk membawa kembali seni tari bagi kemulian TUHAN. Dan setelah saya mengetahui bahwa raja Daud yang gagah berani menghadapi peperangan dapat melakukan tarian saat tabut TUHAN akan di pindahkan dengan berpakaian Efod dari kain lenan (II Samuel 6 : 14-16), Maka pandangan saya tenang tarian berubah, sampai gambar diri saya pun dapat berangsur-angsur pulih sebagai seorang pria seutuhnya.
Saat ini saya juga bersyukur karena TUHAN mau memberikan saya anugerah pengertian akan tarian. Karena ternyata dalam setiap perayaan bangsa Israel, tarian menjadi salah satu bagian penting yang selalu ada. Contoh : Di dalam keluaran 15 : 20, Miriam memimpin tarian setelah bangsa Israel keluar dari Mesir. Dan di II Sam 6 :14-23, Raja Daud menari ketika akan memindahkan Tabut perjanjian TUHAN.
Adapun pengertian yang saya dapat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari :
Pertama, memberitakan isi hati TUHAN. Setiap tarian yang dibuat memiliki makna dan pesan tertentu, demikian juga tarian bagi TUHAN. Misal kedua belah tangan diangkat keatas membentuk huruf “V” memiliki arti menyembah TUHAN. Sehingga setiap penari bisa disebut "nabi TUHAN" karena membawa pesan TUHAN yang ingin disampaikan pada Jemaat melalui gerakan tarinya. Pencerminannya dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai anak TUHAN, gerakan kita, tingkah laku, pembicaraan kita sebaiknya memberitakan isi hati TUHAN, sehingga lingkungan disekeliling kita dapat melihat dan merasakan TUHAN melalui kehidupan kita. Dengan kita memberitakan kebaikan , kebesaran, kemulianan Tuhan, secara rohani, roh kitapun semakin dekat dengan Tuhan. Dan manusia rohani kita semakin bertumbuh dalam pengenalana akan DIA>
Kedua, mengikuti perubahan. Setiap penari tentu merasakannya, bahwa ketika kita menari, kita harus mengikuti irama alunan musik. Jika musik yang diiringi memiliki tempo (beat) yang cepat, maka tidaklah serasi jika penari bergerak dalam tempo lambat. Jadi bila tarian kita tidak sesuai alunan musik, maka performance kita akan terlihat tidak serasi. Gerakan penari harus mengikuti irama musik, namun tidak keluar dari aturan-aturan tari yang telah ditetapkan. Demikian juga dengan hidup kita. Kita perlu mengikuti perubahan yang terjadi di sekeliling kita sesuai dengan irama perubahan tersebut -bukan berarti sama dengan dunia- tetapi tetap di dalam koridor “berjalan di dalam kebenaran Firman TUHAN”. Di jaman yang serba canggih dan perubahan yang bergerak begitu cepat, kita perlu langkah penyesuaian agar kita tidak tergerus oleh perubahan jaman. Kita perlu berubah selaras dengan tempo perubahan jaman, dengan tetap berpegang pada kebenaran Firman TUHAN.
Ketiga, Kelembutan. Dalam tarian, penari akan berusaha menampilkan kelembutan dari setiap gerakan. Meliuk mengikuti irama musik, menampilkan kelenturan tubuh hasil tempaan dari latihan berulang-ulang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjalani latihan bersama TUHAN untuk menampilkan kelembutan kasih TUHAN. Dalam hati mungkin kita sudah jengkel, kesal, dan geram, namun dengan latihan yang mau kita jalankan bersama TUHAN, kita dapat memancarkan kelembutan kasih KRISTUS. Dengan latihan dan pengalaman bersama TUHAN, kita dapat memaafkan orang yang membuat kita kesal padahal kita tidak berbuat salah terhadapnya. Dapat menahan emosi ketika anak kita mungkin menjengkelkan. Latihan kelembutan hati ini biasanya tidak selesai melalui satu perkara. Diperlukan perkara lain hingga kita benar-benar lembut. Nikmatilah prosesnya, seperti tukang periuk membentuk periuk, bila belum sesuai dengan keinginannya, dia akan membentuk ulang hingga sesuai dengan yang dia inginkan. Demkian juga para penari untuk mendapatkan kelenturan tubuh yang sempurna diperlukan latihan berulang kali.
Keempat, Kekuatan. Dalam menari sebenarnya gerakan lembut itu memerlukan kekuatan dan latihan yang keras sebelumnya, sehingga didapat gerakan yang lembut. Gerakan penari bukan dari hasil sekali latihan namun hasil dari latihan berulang-ulang yang dilakukan dengan tekun. Ketika kita mewarnai dunia ini dengan kelemahlembutan kasih Kristus, kita perlu tetap kuat berakar dalam kebenaran FIrman TUhan. Dan hal ini didapat dari proses belajar terus bersama TUHAN.
Menarilah seirama Firman TUHAN dalam menjalani dan mewarnai kehidupan ini. TUHAN memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar